(^_Kabut Merah-Jilid 1_^)

Posted: January 7, 2011 in Uncategorized

(^_Kabut Merah-Jilid 1 : Misteri dalam kabut merah

 

Aku berjalan menyusuri lorong RSJ di sebuah kota yang kemajuan teknologinya jauh di bawah Jakarta. Aku bertemu dengan wanita yang umurnya kira kira 21 tahun seperti umurku. Dia sempat menjerit ketika salah seorang suster menepuk bahunya dan memberikan obat untuknya. Kebetulan, aku juga bekerja sebagai suster baru di RSJ tersebut, jadi sudah kewajibanku membantu rekan kerja yang kesusahan.

Pada malam yang sama aku bertemu dengan wanita itu lagi, anehnya ketika ia memandangi wajahku, wajahnya menjadi tersenyum dan menceritakan semuanya padaku. Semula aku tidak mendengarkan dengan serius. Kata-kata yang di ucapkan wanita itu, semakin dia berbicara semakin ku terlarut pula pada bayangan dan khalusinasi seram yang tidak masuk akal yang ada dalam benakku. “Aline” begitu ia memanggil namaku, walaupun aku suster aku tidak tahu betul mengenai asal usul RSJ tersebut,karena si wanita berbicara dengan ekspresi yang tidak main main, maka aku pun tak seharusnya memotong pembicaraan si wanita.

Si wanita berbicara “ JANGANLAH MASUK KE RUANG YANG BERPINTU WARNA MERAH !!!” karena si wanita berbicara demikian, aku jadi penasaran dan mencari ruangan yang berpintu warna merah. Mulai dari sinilah petualangan ku dimulai. . . Setelah ku temukan pintu warna merah, aku mencoba untuk membuka pintu itu ternyata pintunya terkunci, lalu aku sadar bahwa aku punya kunci khusus suster RSJ . Jika begitu, maka pintu itupun bisa bukan???

Ku keluarkan kunci itu dan ku buka pintunya. Lalu berhembuslah angin dingin dalam ruangan seperti yang sudah lama tidak di buka. Kutemukan baju wanita berwarna putih yang terciprati darah, ku raba dan ku ambil baju itu supaya bisa ku lihat lebih mendalam di kamarku. Suasana didalam ruangan sepi, sunyi,dingin, seperti suasana di pemakaman. Takut menyelimuti tubuhku, penasaran  membungkus pikiranku.”ada apa didalam ruangan ini?” tanyaku di dalam hati lalu saat aku sedang berjalan tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Walau aku tidak tahu siapa yang menepuk bahu ku itu, karena ku langsung berlari tanpa melihat terlebih dahulu wajah dan rupanya.

Lalu di depan pintu aku terjebak oleh sekumpulan kabut merah. Terpaksa aku menerobos kabut itu karena pintu itu adalah 1-1 nya jalan untuk keluar. Ketika aku berhasil menerobos kabut itu, aku pun keluar dari pintu dan tiba tiba aku sadar bahwa aku tidak berada di rumah sakit lagi melainkan, di rumah besar yang sudah tidak dihuni orang.

 

 

Lalu tanpa berpikir panjang, aku langsung memasuki rumah tersebut dan aku mendengar suara piano yang sangat merdu bunyinya. Ku telusuri dan ku ikuti suara piano itu sambil berkata “siapa yang memainkan piano itu?” lalu ku temukan sosok pria muda yang sangat tampan rupanya. Si pria melihat ku dan berkata “kau sudah datang? Dari tadi aku menunggumu…” Dia berbicara dengan nada yang lembut,lalu dia berkata “Mona, kenapa kau menatapku seperti itu? Mona?” Bisiku aku tidak dapat berkata dan menghampiri si pria. Pria itu mendekatiku dan mencium keningku dan berkata “mona? Kau kenapa? Ini kakak mu Edward….” Kakak? Ucapku sambil tak percaya. Aku tertegun sambil menjerit di dalam hati. Apa aku punya kakak se tampan dia? Kalau ini nyata aku memang very lucky >_<… Dia berbicara lagi “mona sekarang waktunya tidur.. kenapa kuq mukamu pucat? Sakit? Ayo kaka kantar ke kamar…” “eh? Kamar di rumah seperti ini?” ucapku dalam hati. Karena aku juga tidak tahu asal-usul rumah ini, jadi ku ikuti saja pria itu. Aku dan pria itu menyusuri sebuah lorong yang gelap di rumah usang tak berpenghuni. Lorong rumah itu di penuhi lukisan dari jaman dulu, saat ku lihat baik-baik, wanita di lukisan tersebut mirip sekali dengan ku. Aku berhenti sajenak. Sekali lagi ku perhatikan lukisan wanita itu, “kenapa?” tanya pria tampan itu,

“mengapa kau terheran heran melihat wajahmu sendiri?” ucapnya. “hah? Wajah? Wajahku?” kata ku heran. “ah tidak, aku cuma kagum saja”… “oh” kata pria itu polos. Kami pun kembali menyusuri lorong itu, sampai akhirnya di ujung lorong ku lihat sebuah tangga usang dan kemudian aku menyusuri tangga tersebut bersama pria tampan itu. Suasana pun kembali hening, sunyi menusuk diri, bulu kuduk ku mulai berdiri. Pria itu kemudian mendekapku dan berkata “jangan takut, tidak akan terjadi apa apa…” entah kenapa dekapan pria itu terasa begitu hangat dan membuatku merasa tenang lagi.

Beberapa menit kemudian, ku lihat sebuah pintu usang, “baiklah,kita sudah sampai” ucap pria itu lembut. Saat kulihat kamar itu, pikiran ku sudah tak karuan! Kamar yang usang penuh sarang laba laba, “uh menjijikan!!!” pikirku. “tapi tak apa lah yang penting hari ini aku bisa istirahat”. Akupun segera merebahkan diriku di tempat tidur usang berkelambu tersebut. Saat ditiduri, ternyata tempat tidur tersebut sangat nyaman. Pria itu pun mengecup keningku dengan lembut, layaknya kecupan seorang ibu. Dia pun membisikan kata kata lembut di telingaku “selamat tidur adik kecilku . . .” bisiknya lembut. Ia kemudian mengusap kepalaku dan tersenyum lembut padaku. Tanpa ku sadari perlahan, aku mulai memejamkan kedua mataku. Kata kata yang di ucapkan oleh pria itu, masih terbayang ditelingaku. Akupun terpejam dan tertidur lelap.

 

 

Saat sadar kembali, aku sudah berada di koridor RSJ dan terselubungi kabut merah yang terasa menghipnotis ku, “Aline” seorang suster menghampiri dan memanggilku, “sedang apa kau duduk di lantai koridor malam malam begini?” ucap suster itu padaku, “eh tidak. Aku tadi cuma terpeleset, lantainya licin” ucapku. “oh hati hati ya! Aku duluan, karena aku harus memberikan obat pada salah satu pasien” suster itu pun langsung pergi. Saat ku lihat dari belakang, sepertinya aku belum pernah melihat suster itu, waktu perkenalanpun aku tidak pernah melihat wajah suster itu . . . Suster itu berjalan dengan cepat. Saat aku sadar, suster itu pun sudah menghilang! Yang tersisa hanya kabut merah dan bercak darah di lantai. Karena suasana sudah mulai seram, aku pun bergegas bangkit dan berlari menyusuri koridor RSJ yang sunyi itu.

Fajar menyongsong, mentari pun mulai menampakan dirinya dari ufuk timur. Setelah berjaga semalaman, memastikan tidak ada pasien yang kabur. Aku pun terbangun dan mulai bangkit lagi dari bangku yang kududuki. “whoam, malam yang melelahkan” ucapku. “uh sebal, baru pertama bekerja, sudah dapat giliran berjaga. . .” pikirku. “pagi aline! Capek?” kata seorang suster. “ah, tidak kuq, kalau hanya begini sih enteng!!” ucapku. “baguslah kalau memang begitu! Berarti kau masih bisa membantu aku kan?” kata suster itu. “emangnya bantu apa?” ucapku keheranan. “tolong siapkan makanan untuk sarapan pagi ini!” ucapnya suster itu. “oh kalau begitu sih aku bisa!” ucapku. “ok! Bahannya sudah ku sediakan, tinggal kau olah saja!” suster itu pun lalu pergi, aku pun berjalan menuju dapur, suara teriakan orang gila yang kelaparan pun mulai terdengar lagi. Ukh! Mungkin lama lama aku bisa ikut gila, tapi kalau bukan disini, di mana lagi aku bisa mencari uang untuk hidup sehari hari ? Beberapa jam kemudian, semua pekerjaan ku pun baru selesai, huh ! tubuhku serasa kaku semua ! tak terasa hari sudah mulai gelap, suasana hening kembali terasa, aku bergegas pergi menuju ke kamarku. Saat aku sampai di kamarku, aku melihat se sosok wanita yang mirip dengan ku. Mengenakan baju putih yang penuh bercak darah. Saat aku pejamkan mataku, dan membukanya lagi, sosok wanita itu sudah hilang ! Seketika aku ingat dengan kejadian yang ku alami kemarin malam. “apa jangan-jangan, wanita yang tadi itu ada hubungannya dengan kejadian yang ku alami, atau mungkin dia punya hubungan khusus dengan Edward, pria yang ku temui kemarin!” pikiranku semakin tak karuan ! “ah sudah lah. Dari pada pusing!” ucapku bingung.

 

 

 

 

Aku merasa penasaran, tetapi aku juga merasa takut karena rasa takut yang begitu menusuk. Akhirnya aku memejamkan ke dua mataku tidur. Baru beberapa menit, aku terlelap. Tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang. “Mona,,,” begitu suara memanggilku, aku pun langsung bangun dan melompat lari dari tempat tidurku. “kau kenapa Mona? Kelihatannya kau gelisah!” saat aku sadar, ternyata itu Edward pria yang ku temui kemarin. Aku merasa heran, mengapa aku bisa kembali ke tempat ini lagi? Aku melamun sambil membayangkan sosok wanita berbaju putih yang sebelumnya ku temui. “Mona? “ ucap pria itu lagi. “kau kuq melamun saja ? ayo, jawab aku !”,

“eh tidak kuq, aku Cuma mimpi buruk, jadi aku kaget.” Ucapku. “apa kau lapar Mona?” ucapnya “uh, sedikit sih !!” ucapku. “kalau begitu ayo kita ke ruang makan, makanan sudah tersaji dimeja” ucap pria itu. Hmm.. makanan ? aku jadi penasaran kira-kira makanan apa yang ada di rumah usang ini? Lagi pula, siapa yang memasak makanannya? Di rumah ini, kan cuma ada Edward . . . Akhirnya Edward pun mengantarku ke ruang makan. Di ruangan tersebut ku lihat sebuah meja panjang dan besar dengan beberapa kursi mewah di sisinya. Dan diatas itu meja sudah tersaji makanan yang terlihat enak dengan susunan yang benar-benar tertata rapi. “apakah kau yang memasak semua makanan ini?” tanyaku pada pria itu. “aku? Tentu saja bukan !” jawab pria itu dengan wajah tersenyum. “lalu siapa lagi yang memasak semua makanan ini?” tanyaku penuh dengan keheranan. “masa kau tidak ingat? Kau yang memasak makanan semua ini!”: jawab pria itu lagi. “aku?!?!?!” aku kaget. “tapi, kapan?”. “sebelum kau pergi kau memasak makanan ini,,,!” hah? Apa aku pernah belajar cara membuat makanan ini? “sudah, dari pada kita mempermasalahkan ini, lebih baik kita makan saja dulu.” Kata-kata pria itu ada benarnya juga. Lagi pula tidak akan menjadi masalah kalau pun aku yang memasak makanan ini. Waktu makan pun selesai. Aku pun tersadar sesuatu, aku perlahan-lahan mulai betah tinggal disini, karena disini kalau aku ingin sesuatu, pasti akan terkabul. Tetapi disisi lain, aku juga merasa takut tinggal di rumah ini, karena di rumah ini aksesori rumahnya masih beraksen zaman dahulu atau bisa disebut gothic. Dalam hati aku pun bertekad untuk tidak tidur malam ini, karena kalau aku tidur aku pasti akan kembali ke RSJ itu lagi. Waktu pun berlalu. Aku semakin merasa ngantuk, mataku mulai terasa berat untuk terus terbuka. Rasanya sulit untuk tidak tidur akhirnya tanpa ku sadari aku pun tertidur.

 

 

 

 

Saat aku bangun di keesokan harinya, aku pun kembali ke kamarku yang semula. Aku masih teringat dengan kejadian kemarin, terkadang aku merasa bahwa hal yang terjadi sangat nyata tetapi karena rasanya hal seperti itu tidak masuk akal untuk menjadi nyata kadang aku berpikir kalau hal itu hanya mimpi ku saja. Rintik hujan di luar terdengar sangat jelas, sehingga membuat aku makin enggan untuk bangun dan memulai aktifitas pagi. Mataku kembali ku pejamkan dan berharap bermimpi kejadian yang tadi.

Ternyata benar, aku terbangun di rumah itu lagi. Edward berkata “Mona? Apa kau sudah bangun? Ayo bangun kita sarapan bersama” ucapnya dengan sangat lembut “iya ! “ ucapku kembali.

Saat di meja makan, Edward berbicara “Mona? Kenapa sekarang kau berubah? Kau sudah tak bermanja-manja lagi padaku, kau sudah tak pernah memanggilku kakak dan yang paling aneh, kau sepertinya merasa kalau aku dan rumah ini sangat asing bagimu . . .” ucapnya Edward serius. “hmm,,, bukan begitu, hanya saja aku kurang merasa sehat” ucapku untuk mengalihkan pembicaraan. “kau tidak enak badan? Apa kau sakit? Badan mu panas tidak? Kau demam?” ucapnya dengan sangat khawatir. “tidak kuq,, aku sudah agak baikan…” jawabku. “tetap saja kau perlu istirahat! Ayo, kaka kantar ke kamar…” jawabnya kembali. “tapi.. aku…aku…” sahutku terbata-bata. “kakak tahu kau takut, kakak temani kau tidurnya, atau rebahan saja juga boleh, yang penting kamu istirahat” ucap Edward. “iya ka,,” sahutku.

Sambil menyusuri lorong, Edward terus mengelus tangan ku dan mendekapku. Entah kenapa aku tak sedikit pun merasa takut atau khawatir. Akhirnya sampai juga ternyata dia mengantarku ke kamarnya. Edward menyalakan perapian yang terletak tidak jauh dari ranjang. Sementara aku ditidurkan di ranjang tersebut. Setelah menyelimuti ku Edward duduk di samping ranjang dimana aku menghadap. Aku bertanya kepada pria tampan itu “kak, apakah kakak akan menemaniku terus?” ucapku sambil berusaha untuk manja. Dia menjawab “tentu saja, jika kau mau, kakak bisa menemanimu selama kau mau…” entah kenapa aku jadi merasa sangat akrab dengan Edward. Tapi tiba-tiba tanpa ku sadari aku berjalan mengahampiri Edward dan memeluknya sambil berkata “kakak,, aku sayang kakak…” Edward tersenyum dan mendekapku lebih erat dan lebih dalam. Entah kenapa, walaupun aku tidak tahu sebenarnya Edward itu siapa, dan Mona itu siapa aku merasa mulai menyayangi Edward seperti kakak kandung ku sendiri dan lama-kelamaan aku merasa nyaman di panggil dengan nama Mona. Walaupun sebenarnya aku ini aline, tapi aku sudah mulai merasa sebagai anggota dengan Edward.

 

 

Tapi di sisi lain, aku juga masih penasaran mengapa setiap aku tidur aku selalu kembali ke rumah ini lagi dan juga aku masih penasaran dengan sosok wanita yang berbaju putih penuh darah yang ku temui kemarin. Apakah mungkin sosok wanita itu adalah Mona adik Edward? Tapi kalau pun iya, apa yang terjadi padanya sehingga ia seperti itu? Masih sangat banyak hal yang ingin ku ketahui tapi lebih baik sekarang jangan ku pikirkan  karena nanti itu semua akan menjadi beban bagi ku. Aku pun kemudian memberanikan diri untuk bertanya pada Edward “sebenarnya apa yang menarik dari diriku, sehingga kau begitu menyayangiku?” tanyaku pada pria tampan yang tinggi semampai itu. “Mona, Mona,, bagaimana mungkin aku tidak saying pda adiku sendiri?” jawab pria itu dengan nada sedikit tertawa. “kau bilang waktu itu aku sempat pergi di tengah malam, saat malam sedang berkabut. Apa  sebelumya kau merasakan firasat buruk, apa kau memikirkan ada hal buruk yang akan terjadi kepada ku?” Tanya aku dengan serius. “hmm, ya aku sempat terpikir kau akan mati terbunuh, karena beberapa saat sesudah kau pergi, tiba-tiba rumah ini diselubungi kabut berwarna merah seperti darah. Tapi terbukti kau selamat kan?” jawab pria itu. Mendengar perkataan pria itu, aku pun semakin penasaran untuk menyelidiki sebenarnya apa yang terjadi pada Mona ? apa mungkin Mona benar-benar mati terbunuh? Rasa penasaran semakin melekat pada diriku, yang membuatku lebih penasaran lebih penasaran lagi kenapa sosok wanita kukira arwah Mona yang bergentayangan selalu dating kepadaku ? tapi kenapa arwah itu tidak pernah berani menampakan dirinya di depan Edward? Selama aku bersama Edward, arwah itu tidak pernah menampakan sosoknya, entah karena dia tidak bisa melihat Edward karena takut menyakiti hatinya karena telah pergi tanpa sepengetahuan kakaknya itu, atau karena alasan yang lain? Aku tak tahu tapi yang penting aku merasa lebih nyaman berada di dekat Edward. Tapi dalam pikiranku, aku berpikir aku tidak mungkin tinggal disini, karena manusia tidak mungkin hidup tanpa tidur selamanya. Akhirnya aku bertekad untuk kembali ke RSJ untuk membantu suster yang lain. Aku pun memejamkan mataku dan tertidur.

Saat membuka mata, aku kembali ke RSJ penuh kegaduhan itu lagi. “huh!!” desahku. “tubuh pegal, aku datang,,” ucapku sebagai tanda siap bekerja lagi sekaligus tanda rasa keluhanku. Aku merasa tidak semangat, akhirnya aku duduk sejenak di bangku. Saat itu aku membayangkan pembunuhan yang menimpa seorang gadis di pikiranku. “ah sudah-sudah! Jangan membayangkan hal yang aneh-aneh aline! Kau harus fokus kepada pekerjaanmu!” ucapku pada diriku sendiri. Lalu kemudian aku kembali bekerja lagi. Tak terasa telah berjam-jam aku bekerja sampai aku merasa lelah, letih dan pegal. Terasa di sekujur tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. “traakk..” tulang-tulang ku berbunyi begitu. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur.

Aku mulai berpikir untuk cepat-cepat tidur dan kembali ke rumah tua itu lagi. Aku pun langsung memejamkan mataku dan terlelap tidur. Begitu aku membuka mataku lagi, aku sudah berada di rumah tua itu lagi. “oh,, kau sudah bangun ya Mona?” aku mendengar suara Edward di depan pintu. “eh iya kak,,,” ucapku. “eh Mona,, aku ada kejutan untuk mu!!” kata Edward. “hah? Untuk apa kak??” tanyaku. “Mona apakah kau sudah lupa? Ini kan hari ulang tahun mu!!” balasnya. Aku termenung sendiri apa benar hari ini adalah hari ulang tahun ku?. “oh iya! Aku baru ingat!” ucapku bohong untuk menutupi keheranan ku. “tutup matamu ! maka aku akan berikan sesuatu untuk mu !”. aku menuruti kata-kata nya karena aku penasaran. “sekarang buka matamu !!!” aku membuka mataku, dan aku merasakan sesuatu di leher ku. Aku melihat sebuah kalung liontin bertulisakan “Mona” dileherku kalung itu terlihat sudah usang dan sudah lama tak dipakai. “kau tidak memakai kalung ini saat kau pergi meninggalkan rumah saat itu, aku menemukannya di kebun belakang rumah tergeletak di belakang vas bunga” ucapnya Edward menceritakan tentang kalung itu. “oh iya ! aku memang tidak memakainya saat itu, k…karena aku takut akan hilang liontinnya.” Ucapku. Dalam hatiku, walaupun aku bicara begitu, aku sama sekali tidak mengerti seberapa penting kalung ituuntuk Mona, sampai-sampai dia tidak memakainya saat pergi meninggalkan rumah? Dan kenapa dia tidak pernah kembali setelah kejadian itu? Di kepalaku terasa banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan pada sosok wanita itu.

Setelah aku memakai kalung, Edward menyuruhku untuk mengganti pakaian ku. Setelah 3 hari lebih aku berniat untuk kembali ke RSJ. Anehnya setelah aku memakai kalung itu, aku tak bisa kembali ke RSJ lagi. Hore ! fikirku. Saat di meja makan Edward berkata “Mona,, kakak pergi ke kamar dulu ya. Kakak merasa kurang sehat sepertinya” dengan nada yang sedikit mengkhawatirkan. Aku mengantarnya ke kamar dia sendiri. Saat sudah sampai di ranjang, Edward berkata “Mona, hanya untuk malam ini saja kau maukan tidur menemaniku?” Dia sangat memohon. Lalu aku menjawab “iya kak, tapi aku haus ingin minum dulu, boleh kan?” “iya boleh, cepat kembali ya…” Edward menjawab dengan sangat khawatir.”iya kak!” sahutku. Di luar pintu aku merasa takut, masa aku tidur dengan orang yang tidak begitu aku kenal?

Aku memang takut, tapi memikirkan perasaan Edward aku menjadi tak khawatir lagi karena aku ingat perasaan Edward pada Mona. Tidak mungkin Edward akan membunuh Mona. Sejenak aku terdiam bagaimana kalau Edward sudah tau siapa aku sebenarnya? Bagaimana kalau dia marah padaku? “Mona…” suara Edward kembali terdengar.

 

“iya kak!” aku cepat-cepat berbaring di samping Edward, aku tidak tidur, aku takut, senang, khawatir pokonya tidak karuan. Edward memeluku hingga aku tidur, dalam tidurku aku bermimpi gadis berbaju putih waktu itu menampar wajahku dan aku langsung terbangun. “ada apa Mona?” ucap pria itu dengan nada yang agak serak. “apa kau tidak bisa tidur? Apa kau merasa tidak nyaman tidur dengan kakak?” sambung pria itu lagi. “ah tida kuq, aku Cuma mimpi buruk,!!” jawabku singkat. “tidak apa-apa kuq, kalaupun kau merasa tidak nyaman, kau boleh kembali ke kamar mu” jawab pria itu dengan diselingi batuk ringan, sebetulnya dalam hatiku aku memang tidak nyaman tidur dengan pria itu, akan tetapi aku tidak tega meninggalkan pria itu karena wajahnya kelihatan pucat dan matanya kelihatan sayu. Jadi aku mengurungkan niat ku untuk meninggalkan kamar itu. “ah, tidak kuq, ! aku nyaman-nyaman saja tidur dengan mu!” jawabku untuk menjadi alasan agar tidak melukai perasaan pria tampan itu.

Akhirnya aku dan pria itu pun tidur kembali, meskipun dalam hatiku aku tidak tenang karena aku teralu terbayang sosok wanita berbaju putih yang selalu menampakan dirinya di hadapanku, terlebih lagi aku masih sangat penasaran dengan Mona adik edward yang asli. Dengan susana yang legang aku pun berusaha untuk tidak takut dan untuk tidur.

Mulai saat itu setiap kali aku berusaha tidur, rasanya susah untuku memejamkan mata, “karena aku takut sewaktu-waktu arwah Mona bisa mendatangi ku lagi bukan?” gumamku dalam hati, aku sering bertanya sendiri. “oh Tuhan apa yang terjadi dengan diriku?” tanyaku pada Tuhan, walaupun aku tahu Tuhan tak akan menjawabku. Aku berpikir, mengapa hal menyeramkan sekaligus menyenangkan ani harus menimpa diriku?, terkadang aku sendiri menjadi pusing memikirkan hal ini. “aku tak mau pulang dari sini, tpi jika aku terus-menerus berada disini aku takut arwah Mona akan semakin marah padaku” pikirku. Biarpun pada dasarnya  aku tak tahu betul mengapa arwah Mona kelihatan marah padaku, aku masih belum yakin akan apa dia marah padaku? Pikirku lagi. Hmm,,, aku bingung jalan mana yang harus aku aku pilih, jika aku pulang, aku tidak akan mendapatkan kenikmatan seperti ini lagi, tapi bila aku tetap tinggal disini kemungkinan besar aku akan mati di bunuh arwah Mona. Setelah aku berpikir cukup keras, aku sadar bahwa Mona tak pernah menampakan wujudnya di depan Edward , jadi aku berniat untuk terus di dekat Edward. Tapi tidak mungkin aku terus begini, karena sewaktu di gereja para pendeta bilang “semua kebohongan pasti akan terlihat, hanya tinggal menunggu waktu saja” mengingat kata-kata itu, aku jadi takut, aku takut Edward kecewa.

 

Menjelang pagi detik demi detik ku pakai untuk berdo’a pada Bunda Maria. Saat pagi datang, Edward terbangun terlebih dahulu. Dia beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati seakan takut kalau aku terbangun. Oh Tuhan satu kebohongan lagi telah ku perbuat. Aku takut oleh semua kebohonganku, aku takut oleh Mu, terlebih lagi oleh Edward. Pagi pun hampir berlalu sembari menyusuri lorong dengan tujuan ingin ke luar halaman, setelah aku sampai, aku berfikir Mona? Aline? Apa bedanya? Wajahnya sama, keniasaanya sama, hobinya sama, apa bedanya? Dengan kaget aku berkata “Edward?” ternyata Edward telah menungguku ku di halaman sambil tersenyum

“Mona? Kenapa kau tidak jujur? Sebenarnya dari dulu aku tahu bahwa kamu itu adalah Aline, tapi aku memanggil mu dengan nama Mona,, itu membebanimu kan?” Mataku terbelalak mendengar perkataan Edward. “tidak, aku malah senang” jawabku dengan membalas seyumnya “tapi Edward, aku sadar sesuatu bahwa hatiku adalah miliku, aku berbeda dengan kalian yang saling memiliki, tubuhku adalah aku, hatiku adalah hatiku, aku adalah aku, aku bukan Mona, di lihat dari fisik kami tak ada bedanya lalu setelah cukup keras untuk berpikir, aku dan Mona memiliki 1 kesamaan yaitu sama-sama ingin terus berada di dekatmu, aku mengerti sekali perasaan Mona” tak terasa mataku mengeluarkan air mata, lalu Edward memeluk tubuhku dan berkata “maaf ya, aku juga sayang padamu” jawab Edward. “Edward kau tidak marah padaku?” ucapku sambil mengusap air mataku. “Marah? Hmm, aku senang, senang sekali,,,” ucap Edward. “Edward, aku ingin memberimu hadiah untukmu bolehkan? Mona masih hidup, aku memberikan separuh jiwaku pada Mona, malam itu kami bertemu saat Mona hampir mati. Mona berkata tolong-tolong sakit sekali tubuhnya berlumuran darah, dia berada diantara hidup dan mati aku kaget dan berbicara apa yang bisa aku lakukan? pegang-pegang tanganku, aku mohon  aku memegang tangan Mona dan dia hidup kembali, saat ia bangun ia berkata kenapa kau menolongku? aku menjawab jika kau mati akan ada hati yang sangat sedih” ucapku panjang. Edward kaget dan berkata “terima kasih…” sambil kembali memeluk tubuhku.

Tuhan mengapa pelukannya nyaman? Tubuhnya sangat hangat, aku nyaman berada di dekatnya, hatiku berdebar kencang apa mungkin ini CINTA? Belum selesai aku bergumam dalam hati. Aku dihentikan oleh sebuah bibir hangat yang menempel pula di bibirku. Oh ya ampun Edward menciumku? Bibir Edward yang sangat hangat mengingatkan ku kembali pada Mike, pada saat malam natal aku duduk berdua dengannya tapi tanpa terasa pagi datang. Mike merencanakan membelikan coklat hangat untuku lalu dari kejauhan mobil besar datang dan menyeret tubuhnya. Seandainya pagi tidak usah datang, aku akan terus bersama Mike. Tapi sekarang seperti ada Mike yang ke dua. Yang memberiku kehangatan. Tapi tanpa kami sadari Mona datang dan berkata “kakak!!” sambil menangis dia berlari meninggalkan kami, suaranya menghentikan ciuman Edward padaku. Edward lari mengejarnya tapi aku hanya bisa diam dan menyaksikan cintaku terenggut untuk ke dua kalinya. Aku hanya bisa memandangi punggung Edward yang sedang berlari mengejar Mona diiringi kabut merah. Aku memejamkan mata, tak sanggup melihat. Aku kembali ke RSJ? Aku sangat bersyukur di bebaskan dari masalah itu. Terima kasih Tuhan… Terima kasih banyak. Aku berlari dan bertubrukan dengan pasien wanita yang menceritakan tentang pintu itu. Dia membawa buku diary dan memberikannya padaku, setelah memberikan buku itu, dia berlari ketakutan. Aku takut membuka buku itu tapi harus ku lakukan !

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s